Lompat ke konten

Sistem Pembagian Saham Startup

Sistem Pembagian Saham Startup

Saham adalah surat berharga bukti penyertaan modal terhadap sebuah perusahaan terkait. Bagi perusahaan publik, saham bisa diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia namun bagi perusahaan private terlebih perusahaan yang baru berdiri (startup atau rintisan), diskusi mengenai kepemilikan saham tertutup hanya dengan investor internal perusahaan tersebut atau dengan venture capital. 

Salah satu tantangan dalam mendirikan sebuah perusahaan startup adalah diskusi perihal sistem pembagian saham startup. Hal ini salah satunya disebabkan karena seringkali pembagian saham antar founder perusahaan yang tidak disepakati dengan baik akan mengantarkan perusahaan tersebut ke pengadilan, atau bahkan kehancuran. 

Lalu, bagaimana cara pembagian saham startup? Simak ulasannya berikut ini. 

Kenapa Ada Pembagian Saham Di Perusahaan Startup?

Ada beberapa faktor yang membuat harus adanya pembagian saham di sebuah startup. Faktor-faktor tersebut adalah:

Mayoritas startup didirikan oleh dua orang atau lebih

Anda mungkin mengetahui Nadiem Makarim sebagai CEO perusahaan startup bernama Gojek. Tapi, tahukah Anda jika terdapat peran dari dua teman Nadiem yaitu Kevin Aluwi dan Michaelangelo Moran dalam mendirikan startup unicorn tersebut? 

Yup! Boleh dibilang jarang ada startup yang didirikan oleh satu orang. Mayoritas startup didirikan oleh dua orang atau lebih yang memiliki sumber daya, work ethic yang berbeda dan masing-masing pendiri startup (co-founder) berhak atas saham di perusahaan tersebut. 

Tidak jarang para co-founder ini bukan keluarga atau teman sepermainan melainkan orang yang baru bertemu di acara inkubasi sehingga tidak mengenal satu sama lain. Akibatnya, apabila tidak ada pembagian saham startup yang adil, bisa jadi perusahaan startup tersebut akan mati sebelum berkembang akibat perpecahan dari founder. 

Venture Capital

Tentu mendapatkan pendanaan dari perusahaan venture capital adalah target dari banyak perusahaan rintisan. Terlepas dari Anda mendirikan dan mengembangkan perusahaan startup secara mandiri atau berkelompok, bergabungnya venture capital dalam permodalan tetap berarti saham perusahaan tersebut akan dibagi. Bahkan tidak jarang perusahaan venture capital meminta capitalization table atau tabel yang berisi mengenai rincian kepemilikan saham perusahaan. 

Kemungkinan ESOP

Sudah bukan rahasia lagi kalau perusahaan startup yang baru berdiri cenderung memiliki modal terbatas. Maka dari itu, tidak heran jika mereka menawarkan Employee Stock Ownership Program (ESOP) sebagai ganti sebagian gaji supaya bisa menarik kandidat karyawan potensial.

Hal Yang Harus Dipertimbangkan

Pada dasarnya tidak ada sistem yang pasti mengenai bagaimana sistem pembagian saham startup yang seharusnya. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat membagi saham di antara para founder. Beberapa hal tersebut adalah:

1. Dasar pembagian saham

Hal yang pertama adalah faktor yang mendasari besar kecilnya pembagian saham. Seperti yang telah kita ketahui, setiap founder startup pasti memiliki skill set, pengalaman, pendidikan dan sumber daya dana yang berbeda. Tujuannya jelas yaitu supaya Anda dan investor lainnya bisa mengidentifikasi mengapa seorang founder memiliki saham yang lebih besar dibandingkan yang lain.

Misalnya, sebuah startup didirikan oleh dua orang yaitu A dan B. A adalah orang yang memiliki banyak uang tapi tidak memiliki skill yang relevan dengan keahlian yang dibutuhkan perusahaan sehingga A cenderung menjadi investor yang tidak aktif terlibat dalam manajerial perusahaan. Disisi lain, B adalah kebalikan dari A memiliki skill dan pengalaman yang dibutuhkan tapi punya dana terbatas sehingga terlibat aktif dalam manajerial perusahaan. 

2. Kemungkinan ESOP

Employee Stock Option Plan (ESOP) adalah program pemberian saham untuk karyawan tertentu. Biasanya, karyawan yang diberi hak ESOP adalah karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut atau memiliki jabatan tinggi. 

Kemungkinan ESOP bisa Anda pertimbangkan apabila Anda dan pendiri perusahaan yang lainnya (co founder) masih membutuhkan orang lain untuk mengisi jabatan tertentu seperti CTO atau CFO. Tujuannya adalah supaya kandidat yang potensial bisa tertarik untuk bekerja di perusahaan Anda meskipun perusahaan tersebut menawarkan gaji bulanan yang bisa jadi terbatas. 

3. Kemungkinan adanya investasi dari venture capital

Mendapatkan pendanaan dari perusahaan venture capital pastinya merupakan salah satu impian dari pengusaha startup. Hal ini karena dengan mendapatkan pendanaan tersebut, perusahaan tidak hanya bisa memperluas operasi bisnis tetapi juga bisa menambah citra perusahaan di mata masyarakat. 

Besar kecilnya jumlah pendanaan dari venture capital dan institusi pihak ketiga lainnya seperti, bank tentu akan mempengaruhi atau mendistorsi persentase modal yang dimiliki oleh para founder. Contohnya, sebuah perusahaan awalnya didirikan oleh A dan B dengan masing-masing menyetor modal Rp500.000 sehingga total saham perusahaan tersebut adalah sebesar Rp1.000.000 dengan kepemilikan A dan B 50%. Akan tetapi setelah mendapatkan pendanaan sebesar Rp1.000.000 dari sebuah VC, total saham yang beredar untuk perusahaan tersebut adalah sebesar Rp2.000.000 dan persentase kepemilikan A dan B masing-masing menyusut jadi 25%.

Oleh karena itu, perlu adanya kesepakatan terlebih dahulu mengenai batas maksimum modal yang bisa didapatkan dari pihak ketiga sehingga persentase modal founder tetap terjaga dan tersepakati dengan baik. 

4. Kemungkinan adanya ketidakpastian

Hal keempat yang harus dipertimbangkan dalam pembagian saham sebuah perusahaan startup adalah kemungkinan adanya ketidakpastian mengenai besaran jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional perusahaan kedepannya dan mengenai bagaimana kinerja para founder selanjutnya. 

Menurut penelitian Harvard Business Review, ketidakpastian mengenai kinerja founder selanjutnya ini menghantarkan pada kesimpulan bahwa sebaiknya pembagian saham perusahaan tidak dipastikan atau didiskusikan secara rinci ketika perusahaan tersebut baru berdiri. Sebaliknya, sebaiknya diskusi mengenai hal ini dilakukan ketika perusahaan sudah agak matang. 

Hal ini karena menurut penelitian tersebut, mayoritas founder startup yang mendiskusikan besaran pembagian saham tersebut di awal cenderung tidak senang karena baru mengetahui bagaimana sistem kerja co-founder lainnya setelah startup tersebut berdiri. 

Selain di capitalization table, ada baiknya juga rencana sistem pembagian saham startup ini ditulis di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) perusahaan. Alasannya adalah supaya founder memiliki dasar hukum yang jelas untuk mengakuisisi saham founder lain atau menjual saham miliknya sendiri. 

Menemukan partner bisnis seperjuangan dan sevisi misi untuk mendirikan dan membesarkan sebuah perusahaan startup itu memang seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, susahnya minta ampun.

Oleh sebab itu, ketika Anda mendapatkan satu rekan berbisnis yang sekiranya cocok, pastikan Anda melakukan bonding dan ketahui bagaimana work ethic mereka dan apa yang mereka harapkan dalam pembagian saham dan kinerja perusahaan kedepannya.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Farichatul Chusna merupakan salah satu finalist PKM-Kewirausahaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional tahun 2016. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Chusna aktif mencari dan mengeksekusi ide bisnis yang menarik dan inovatif.View Author posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.