Perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atau profit tentunya harus mengeluarkan biaya atau modal tertentu. Biaya inilah yang menjadi landasan untuk memproduksi unit atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen.
Nah, pengeluaran biaya modal ini lebih dikenal dengan istilah capital expenditure atau CapEx. Sesuai dengan namanya, CapEx berarti Anda melakukan aktivitas belanja modal atau mengeluarkan sejumlah uang tertentu untuk mendukung operasional bisnis.
Agar tidak bingung, artikel berikut ini akan menyajikan pembahasan lebih lengkap tentang capital expenditure mulai dari pengertian, contoh, jenis, hingga rumus menghitungnya. Mari simak informasi di bawah ini!
Apa Itu Capital Expenditure?
Capital expenditure adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk meningkatkan dan mendukung operasional serta pertumbuhan bisnis. Biaya yang dikeluarkan ini berkaitan dengan pembelian modal bisnis, seperti menyewa atau membeli gedung operasional bisnis, menyewa gudang penyimpanan, membeli mesin baru, membeli teknologi tertentu, dan masih banyak lagi sesuai kebutuhan perusahaan.
Modal ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa modal yang dibeli ini tentunya memiliki nilai ekonomis yang bersifat jangka panjang. Dengan artian, Anda bisa menggunakannya hingga batas waktu tertentu hingga tiba saatnya untuk diperbaiki atau diganti dengan yang baru.
Jika ada pengeluaran biaya modal, tentu diiringi dengan pengeluaran biaya operasional atau lebih dikenal dengan operating expenditure (OpEx). Sesuai dengan namanya, OpEx memang diperuntukkan untuk membiayai kebutuhan harian atau bulanan bisnis, seperti gaji karyawan, sewa gedung, sewa alat, listrik, dan sebagainya.
Jenis-jenis Capital Expenditure
Capital expenditure (CapEx) sendiri dibagi lagi ke dalam beberapa jenis, yaitu:
1. Expansion Generated by New Products
Salah satu upaya yang biasanya dilakukan oleh sebuah perusahaan dalam meningkatkan pendapatan adalah menciptakan inovasi produk/layanan baru. Tujuannya tentu untuk menarik perhatian konsumen dan meningkatkan penjualan.
Proses pembuatan produk/layanan baru ini pastinya membutuhkan biaya tambahan lagi. Terlebih jika inovasi yang dilakukan akan menggunakan bahan atau mesin yang berbeda dalam proses pembuatannya. Dengan begitu, Anda harus membeli kembali modal yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
2. Projected Mandated by Law
Selain modal yang dikeluarkan untuk operasional inti perusahaan, CapEx juga membiayai pembelian barang yang tidak berkaitan dengan pencarian keuntungan. Pembelian ini umumnya berkaitan dengan peraturan (law) yang berlaku di bisnis Anda beroperasi.
Misalnya, Anda bergerak di bidang tekstil produksi pakaian. Nah, pastinya Anda akan menggunakan pewarna untuk setiap produk yang dibuat. Limbah tekstil tersebut harus diolah dengan baik agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Pembelian alat pengolahan limbah inilah yang dihitung dalam CapEx. Jika Anda tidak membeli barang tersebut, bisnis Anda berisiko bersinggungan dengan pemerintah dan masyarakat sekitar.
3. Equipment Replacement
Jenis CapEx yang berikutnya ini berkaitan dengan pembelian atau perbaikan alat produksi pendukung operasional bisnis. Setiap alat produksi pastinya memiliki umur ekonomis tertentu misalnya 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya.
Jika sudah melewati umurnya, alat produksi cenderung menjadi kurang maksimal operasionalnya dan akan berpengaruh pada unit yang diproduksi. Alhasil, Anda harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki atau membeli kembali alat produksi yang baru.
4. Expansion to Meet Growth in Existing Products
Terakhir, biaya yang dikeluarkan bertujuan untuk ekspansi bisnis menjadi lebih luas. Ekspansi ini bisa berhubungan dengan pembukaan cabang di daerah lain.
Ketika akan membuka cabang baru, pasti modal yang dikeluarkan pun akan sama seperti awal membangun bisnis. Anda pun perlu mempelajari kembali peraturan dan kondisi lingkungan tujuan agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Rumus Capital Expenditure
Rumus capital expenditure (CapEx) adalah sebagai berikut:
Capital Expenditure = (Nilai Aset di Akhir Tahun – Nilai Aset Tetap di Awal Tahun) + Biaya Depresiasi Saat Ini
Keterangan rumus:
- PP&E (Property, Plant, and Equipment): Aset tetap dan berwujud milik perusahaan.
- Rumus menghitung depresiasi: Total Depresiasi di Akhir Tahun – Total Depresiasi di Awal Tahun
Cara Menghitung Capital Expenditure
Agar Anda memiliki gambaran lebih jelas, mari coba hitung capital expenditure pada contoh soal di bawah ini:
Perusahaan PT Anugerah Sejahtera memiliki laporan keuangan sebagai berikut:
- Nilai aset tetap (PP&E) di akhir tahun 2023 sebesar Rp320.000.000
- Nilai aset tetap (PP&E) di awal tahun 2023 sebesar Rp300.000.000
- Biaya depresiasi sebesar Rp100.000.000
Berapakah nilai capital expenditure PT Anugerah Sejahtera?
Nilai CapEx dari PT Anugerah Sejahtera pada tahun 2023 adalah sebagai berikut:
CapEx = ∆PP&E + Biaya Depresiasi Saat Ini
CapEx = (Rp320.000.000 – Rp300.000.000) + Rp100.000.000
CapEx = Rp120.000.000
Perbedaan Capital Expenditure dan Operating Expenditure
Seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya, ada perbedaan mendasar antara capital expenditure (CapEx) dan operating expenditure (OpEx), yaitu sebagai berikut:
Capital Expenditure | Operating Expenditure | |
Fungsi | Pengeluaran biaya digunakan untuk membeli atau membiayai aset/modal yang mendukung operasional bisnis | Pengeluaran biaya untuk kebutuhan operasional sehari-hari, seperti pembayaran gaji karyawan, tagihan listrik, perbaikan mesin produksi, dan sebagainya |
Nominal | Biaya yang dikeluarkan berjumlah besar di awal periode | Biaya yang dikeluarkan cenderung fluktuatif disesuaikan dengan kebutuhan |
Durasi | Jangka panjang | Jangka pendek |
Posisi di laporan keuangan akuntansi | Muncul sebagai aset di neraca keuangan dan beberapa bagian dalam laporan laba rugi | Muncul di laporan laba rugi akuntansi |
Demikianlah pembahasan tentang capital expenditure (CapEx) mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya. Pahami juga jenis-jenis CapEx agar Anda bisa menghitung dan menyesuaikan pengeluaran biaya yang diperlukan.