Lompat ke konten

Apa itu Digital Mindset?

digital mindset adalah

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan internet untuk mendapatkan penghasilan dan meningkatkan brand awareness dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dan cakupan konsumen yang lebih luas dibandingkan bisnis online biasa. 

Hal ini tambah didorong dengan adanya pandemi covid19 yang menghalangi masyarakat untuk berinteraksi secara langsung dan menuntut masyarakat untuk mengubah pola bisnisnya sepenuhnya ke dunia digital. Pebisnis tidak akan bisa mengubah bisnisnya ke dalam pola digital ini dengan tanpa memiliki digital mindset. Apa yang disebut dengan digital mindset dan mengapa hal ini penting?

Apa Itu Digital Mindset?

Menurut Harvard Business Review, digital mindset adalah serangkaian sikap dan perilaku yang memungkinkan orang dan organisasi memanfaatkan AI, algoritma dan big data dalam internet bisa membuka jalan kesuksesan untuk bisnis mereka. 

Hal ini tidak melulu mengenai keahlian menggunakan teknologi terbaru, akan tetapi melihat bagaimana perkembangan teknologi terbaru memungkinkan terjadinya peluang-peluang bisnis baru yang tidak ada sebelumnya. Agar perusahaan terus berkembang, pebisnis dan karyawan perusahaan tersebut dituntut untuk memiliki digital mindset ini dan bisa memanfaatkan teknologi baru ini untuk bisa mengembangkan bisnis mereka. 

Seseorang dikatakan memiliki digital mindset apabila:

  • Tahu dan memahami kekuatan teknologi terbaru saat ini. 
  • Terus beradaptasi untuk bisa meningkatkan skala bisnis. 
  • Bisa memahami dampak yang timbul akibat keterkaitan satu sama lain. 
  • Menghadapi perubahan dan gangguan teknologi dengan tenang.

Dalam dunia bisnis seperti saat ini, memilih untuk tidak mengembangkan dan membangun digital mindset mirip dengan memilih untuk tidak berkembang dan mati secara perlahan. 

Pentingnya Digital Mindset

Mari kita ambil contoh industri radio di Indonesia. Radio adalah salah satu media komunikasi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu di dunia. Media komunikasi ini sempat booming di Indonesia pasca kemerdekaan sebelum teknologi televisi menjamur di negeri ini. 

Saat televisi tiba, radio dan televisi menjadi teknologi yang saling melengkapi satu sama lain. Namun saat ini, eksistensi radio mulai terancam khususnya di kalangan pendengar muda. Pasalnya, generasi muda saat ini sudah jarang mendengarkan radio (bahkan televisi) dan beralih pada media yang lebih baru, seperti YouTube atau aplikasi OTT. Oleh sebab itu, industri media yang satu ini dituntut untuk memiliki digital mindset dan melakukan transformasi digital supaya bisa bertahan. 

Maka dari itu, tidak heran jika pelaku industri radio saat ini mulai mengembangkan bisnisnya ke ranah digital dan non digital. Misalnya, dengan mengembangkan konten audio visual dan mengunggahnya di YouTube, seperti Radio Ardan dan mengembangkan konten podcast dan mengunggahnya ke platform audio, seperti Spotify dan Noice. Bahkan ada juga perusahaan radio yang mengembangkan bisnisnya ke talent management dan event organizer. 

Belakangan ini, langkah yang sama juga ditempuh oleh pelaku industri televisi. Banyak perusahaan televisi yang saat ini mengunggah berbagai arsip kontennya di YouTube, sehingga banyak penonton konten lamanya bisa bernostalgia. Raksasa industri televisi, seperti EMTEK Group dan MNC Group bahkan membuat aplikasi konten tersendiri, yaitu Vidio dan RCTI+ untuk menarik minat generasi muda. 

Pandemi covid19 mendorong bisnis untuk memiliki digital mindset dan membangun transformasi digital dengan lebih cepat. Karena tidak memungkinkan untuk kerja dari kantor atau kuliah dari kampus, covid19 memaksa masyarakat untuk menggunakan aplikasi meeting online, seperti WebEX dan Zoom, serta berbagai produk Google Drive untuk bisa kerja dan kuliah secara online. 

Digital Mindset yang Wajib Dimiliki Seorang Pebisnis

1. Ingin tahu dan berkembang

Pola pikir yang pertama harus dimiliki oleh seorang pebisnis yang ingin sukses membangun digital mindset adalah rasa ingin tahu dan ingin berkembang. Rasa ingin tahu dan berkembang ini penting untuk membentuk pribadi yang mampu mengidentifikasi dan menemukan solusi dari suatu permasalahan dan penting untuk membentuk pribadi yang agile terhadap segala kemungkinan. 

2. Memiliki pandangan global

Internet memungkinkan seorang individu untuk berinteraksi satu sama lain terlepas dari jarak dan bahasa. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengambangkan bisnisnya hingga ranah global, sekaligus mengambil pembelajaran dari masalah global untuk diterapkan dalam bisnis yang levelnya lebih kecil. 

Mari kita ambil contoh relasi dari aplikasi Gojek dan Uber. Uber pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 2009. Pada saat yang nyaris bersamaan, Gojek juga dikembangkan di Indonesia atas inisiatif Nadiem Makarim. Awalnya, Gojek hanya mengandalkan sistem call center saja, namun karena meningkatnya popularitas Uber sebagai perusahaan ride hailing di Amerika Serikat, investor pun menawari Nadiem untuk mengembangkan bisnis yang sama di Indonesia. Akibatnya, hingga saat ini Gojek menjadi penyedia jasa ride hailing kenamaan di negeri ini. 

3. Mau beradaptasi di agile environment

Salah satu tantangan individu di dunia digital adalah kemampuan beradaptasi di dunia teknologi yang berkembang cepat. Dengan kemampuan adaptasi ini, Anda bisa menemukan peluang-peluang baru di masa-masa krisis. 

Pada masa pandemi covid19 misalnya. Banyak pebisnis makanan yang mengalami kebangkrutan akibat minimnya customer yang membeli produk mereka, khususnya secara dine in. Namun dengan digital mindset yang mereka miliki, mereka bisa sedikit mengubah pola bisnisnya dengan menyediakan layanan delivery, take home dengan cashless technology, sehingga mampu bertahan di tengah ketidakpastian. 

Namun, penting dipahami bahwasanya tidak semua teknologi harus Anda mengerti dan kuasai. Ada kalanya, Anda harus membatasi diri dengan memilih teknologi yang harus dipelajari. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan mental diri Anda sendiri.

4. Mau memahami data

Teknologi digital saat ini datang bersamaan dengan data dan algoritma. Data ini seperti apa? Misalnya, YouTube views, engagement rate, leads rate dan lain sebagainya. Untuk sukses di dunia digital, Anda harus mau memahami cerita dalam data-data ini. 

Tujuannya adalah supaya Anda bisa memanfaatkan data-data tersebut untuk mensukseskan bisnis Anda, seperti menemukan target konsumen yang tepat, sebagai bahan evaluasi pemasaran dan lain sebagainya. Akibat pentingnya data-data ini, saat ini banyak perusahaan besar yang mempekerjakan tenaga khusus, seperti digital marketer, data scientist dan data analyst untuk mengurus data-data tersebut. 

Cara Membangun Digital Mindset

Belajar dari kasus Unilever, Phillips dan Moderna, Harvard Business Review merumuskan beberapa hal yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan yang ingin membangun digital mindset. Beberapa hal tersebut ialah:

  1. Membangun lingkungan yang mendorong pembelajaran berkelanjutan. 
  2. Mempercepat proses adopsi digital. Teknologi bergerak dengan cepat, sehingga tidak jarang perusahaan melakukan transformasi digital dengan cara yang radikal, seperti mempekerjakan tenaga kerja baru yang berpengalaman di bidang ini, mengakuisisi perusahaan lainnya atau bahkan memecat karyawan. Namun, perubahan radikal ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan berbagai indikator yang digunakan untuk mengevaluasi proses transformasi digital dalam jangka panjang.
  3. Mengidentifikasi aktor dibalik penggunaan teknologi. Banyak aplikasi bisnis yang saat ini cloud-based software. Artinya, perusahaan tinggal mengunduh aplikasi atau software terkait dan membagikan penggunaannya untuk individu yang bertanggung jawab pada bidangnya masing-masing. Software ERP misalnya, biasanya sudah termasuk software untuk HR, divisi keuangan dan penjualan sekaligus. Hal ini memungkinkan setiap divisi untuk berkolaborasi dan bekerjasama. 
  1. Mau beradaptasi dengan teknologi terbaru.

Membangun digital mindset dan melakukan transformasi digital seringkali membutuhkan waktu dan harus mengalami banyak tantangan. Akan tetapi, keuntungan transformasi ini setara dengan usaha yang dikeluarkan. Banyak perusahaan yang bertahan serta tenaga kerja yang mendapatkan posisi dan gaji yang lebih baik ketika mereka mampu beradaptasi dengan dunia digital.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Farichatul Chusna merupakan salah satu finalist PKM-Kewirausahaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional tahun 2016. Selama menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Chusna aktif mencari dan mengeksekusi ide bisnis yang menarik dan inovatif.View Author posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *